Wamendikdasmen Fajar Soroti Dampak AI pada Guru: Tantangan dan Peluang Pendidikan

by -41 Views
klik disini

Dampak AI bagi Profesi Guru — Sorotan Wamendikdasmen Fajar

Apa yang Disoroti Wamendikdasmen?

Jakarta — Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Fajar Riza Ul Haq, menyoroti dampak pesatnya penggunaan kecerdasan buatan (AI) terhadap profesi guru di Indonesia. Menurutnya, perkembangan teknologi ini menghadirkan tantangan sekaligus peluang bagi tenaga pendidik dalam menjaga kredibilitas profesinya serta meningkatkan kualitas pembelajaran.

Dalam paparannya, Fajar menegaskan bahwa meskipun AI terus berkembang, teknologi ini tidak selayaknya dilihat sebagai ancaman yang menggantikan peran guru. Sebaliknya, AI harus dipandang sebagai alat bantu untuk memperkuat proses pembelajaran apabila dimanfaatkan dengan bijak.

AI: Tantangan Profesi Guru

Perkembangan AI menuntut guru untuk terus memperbarui kompetensinya. Ini terutama berkaitan dengan literasi digital dan pemahaman terhadap penggunaan teknologi dalam proses belajar mengajar. Agar tidak tertinggal oleh kemajuan teknologi, guru perlu mengembangkan kemampuan baru yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Selain itu, guru juga dihadapkan pada tugas menjaga martabat profesinya. AI dapat mengambil alih tugas‑tugas administratif maupun konten pembelajaran dasar, namun peran manusia dalam interaksi emosional, pembentukan karakter siswa, dan evaluasi pembelajaran tetap tidak tergantikan.

Peluang AI dalam Pendidikan

Di sisi lain, AI juga membuka peluang besar dalam dunia pendidikan. Teknologi ini dapat membantu mengoptimalkan waktu guru dengan mengotomatisasi tugas‑tugas rutin, seperti penilaian awal, penyusunan materi ajar digital, atau analisis data belajar siswa. Hal ini memberi ruang lebih bagi guru untuk fokus pada pembelajaran yang bermakna dan pendekatan pedagogis yang lebih kreatif.

Beberapa negara, seperti Singapura, juga menunjukkan bagaimana AI tidak menggantikan guru, tetapi justru membantu meredefinisi cara mereka melakukan pekerjaan — misalnya dalam merancang kuis, mengumpulkan data pembelajaran, atau mempersonalisasi pengajaran sesuai kebutuhan siswa.

Pendidikan Digital & Literasi

Fajar menekankan pentingnya literasi digital dan kapasitas pedagogik sebagai modal utama guru dalam memanfaatkan teknologi AI. Guru perlu tidak hanya memahami cara kerja AI, tetapi juga peka terhadap etika penggunaan teknologi, sehingga penggunaan AI tetap pada koridor yang mendukung pembelajaran efektif tanpa mengorbankan integritas akademik.

Kesimpulan: Integrasi AI Butuh Pendekatan Tepat

Penerapan AI dalam pendidikan bukan sekadar soal teknologi, tetapi keseimbangan antara inovasi dan peran manusia. AI yang digunakan secara bijak dan terintegrasi dengan baik dapat menjadi alat bantu yang mendorong kualitas pendidikan. Namun, pengembangan kompetensi guru dan pemahaman etis tentang teknologi tetap menjadi kunci utama dalam era digital.

klik disini